Aqiqah & Kambing Guling

Menggabungkan Qurban dan Aqiqah

Apabila waktu qurban bertepatan dengan aqiqah, seperti apabila seseorang ingin melaksanakan aqiqah untuk anaknya pada idul adha atau hari-hari tasyriq, apakah qurban tersebut sudah dianggap mewakili aqiqah ?

Ada dua pendapat di kalangan para ulama dalam masalah ini.

Pendapat pertama : qurban mewakili aqiqah. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Hasan al-Bashri, Muhammad bin Sirin, Qatadah dan Hisyam-termasuk kalangan tabi’in. Juga merupakan salah satu riwayat pendapt Imam Ahmad (dalam kitab Fathul Bari 12/13, Syarhus Sunnah 11/267, Al-Inshaf 4/111, Kasysaful Qana’ 3/29, Al Furu’ 3/564, Tuhfadul Maudu, halaman 68). Pendapat sendaa juga dikemukakan oleh Abu Hanifah. Ibnu Abidin mengatakan, “…Demikian juga apabila sebagian mereka ingin mekajsanakan aqiqah untuk seorang anak yang dilahirkan beberapa waktu sebelumnya. Sebab, hal ini termasuk dalam kategori mendekatkan diri kepada Allah dengan bersyukur atas karunia berupa anak. Hal ini diungkapkan oleh Muhammad.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Hasan berkata, “Apabila mereka menyembelih hewan qurban untuk anak, maka itu sudah mewakili aqiqah.” Diriwayatkan juga oleh ‘Abdurrazzaq.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Hisyam dan Ibnu sirin berkata, “Pelaksanaan qurban dapat mewakili aqiqah”.

‘Abdurrazzaq juga meriwayatkan dari Qatadah berkata, “Barangsiapa yang belum pernah diaqiqahi, ritual qurbannya dapat mewakilinya”.

Al-Khallal mengatakan: Bab Riwayat Tentang Qurban Dapat Mewakili Aqiqah. Kemudian, (Ahmad bin hanbal), “Bolehkan menyembelih hewan qurban untuk anak sebagai wakil aqiqah?” Beliau menjadwab, “Aku tidak tahu.” Kemudian beliau melanjutkan, “Banyak ulama yang berpendapat demikian.”Aku bertany, “Dari kalangan tabi’in?” Beliau mnejawab, “Ya.” ….Abu Abdillah mneybutkan bahwa sebagian mereka mengataka, “ Menyembelih hewan qurban dapat mewakili aqiqah.” …Abu Abdillah berkata, ‘Aku berharap semoga ritual qurban dapat mewakili aqiqah untuk orang yag belum pernah diaqiqahi, insya Allah,” …Aku melihat Abu Abdillah membeli hewan qurban. Kemudian, beliau menyembelihnya atas namanya dan nama keluarganya. Putranya yang bernama Abdullah saat itu masih kecil. Beliau juga mengatasnakannya. Aku merasa tujuan beliau adalah aqiqah dan qurban secara bersamaan. Beliau membagikan daging hewan tersebut dan mengonsumsinya sebagiannya.

Golongan ulama ini memandang bahwa tujuan aqiqah dan  qurban dapat direalisasikan dengan hanya satu sembelihan. Hal ini menyerupai sholat Jumat dan Shalat Hari Raya apabila bertepatan waktunya. Juga seperti shalat dua rakaat dengan shalat Tahiyyatul Masjid dan niat shalat sunnah Rawatib. Atau seperti niat shalat wajib seteah Thawaf dan niat shalat sunah Rawatib, Tujuannya bisa direalisasikan hanay dengan satu shalat.

Demikian juga apabila orang yang melaksanakan ibadah haji tamattu’ atau qiran menyembelih kambing di hari raya Idul Adha, ritual sembelihan tersebut dapat mewakili hadyi dan qurban.

Pendapat kedua: qurban tidap dapat mewakili aqiqah. Ini dalah pendapat para ulama penganut mazhab Maliki, Syafi’I dan versi riwayat lain pendapat Imam Ahmad. Al-Khallal meriwayatkan dari Abdullah bin Ahmad berkata: Aku bertanya kepada bapakku tentang aqiqah yang dilaksanakan pada hari Idul Adha, apakah dapat mewakili qurban dan aqiqah sekaligus ? Beliau menjawab, “Hanya salah satunya; qurban atau aqiqah, Tergantung pada niatnya. Versi pendapat inilah yang menjadi pedoman mayoritas ulama penganut mazhab Hanbali.

Argumen mereka addalah bahwa qurban dan aqiqah masing-masing adalah ritual sembelihan yang memiliki sebab tersendiri, sehingga satu sama lain tidak dapat saling mewakili. Sama seperti hdyi ddan damm.

Mereka juga mengatakan bahwa tujuan dari qurban dan aqiqah masing-msing adalah ritual penumpahan darah. Sehingga, satu ritual menumpahkan darah tidak bisa mewakili dua ritual sekaligus.

Asy-Syaikh Ibnu Hajar al-Makki ditanya tentang ritual penyembelihan kambing di hari raya Idul Adha dengan niat qurban dan niat aqiqah secara bersamaan. Apakah kedua niat itu bisa dilaksanakan sekaligus atau tidak ? Beliau menjawab, “Yang ditunjukkan dalam pernyataan para sejawat kami dan telah kami terapkan dari semenjak bertahun-tahun yang lalu adalah bahwa tidak ada saling tumpang tindih pada kedua ritual itu. Sebab, qurban dan aqiqah adalah sunnah yang masing-masing memiliki tujuan dan sebab tersendiri. Qurban dalah tebusan untuk jiwa, sementara aqiqah adalah tebusan untuk anak. Dengan aqiqah diharapkan si anak dapat tumbuh dengan baik, berbakti dan dapat memberi syafaat kelak. Tetapi, dengan pendapat yang mengatakan bahwa keduanya bis saling tumpang tindih, masing-masing tujuannya tidak dapat akan terealisasikan. Oleh karena itu, pendapat tersebut tdak mungkin benar. Sama halnya seperti pendapat mereka tentang mandi jumat dan mandi hari raya, shalat sunnah Zuhur dan shalat sunnah Ashar. Sementara, shalat Tahiyyatul Masjid dan yang semisalnya tidak memiliki tujuan tersendiri. Tujuan utamanay adalah penghormatan terhadap masjid. Hal ini bisa dilakukan dengan shalat yang lain,. Demikian juga dengan puasa Senin-Kamisyang tujuan utamanya adalah menghidupkan hari itu dengan ibadah puasa, sehingga bisa juga dilakukan dengan puasa yang lain.

Qurban dan aqiqah tidak seperti itu, sebagaimana telah saya paparkan diatas. Pembahasan ini hanya terbatas pada seekor kambing atau sepertujuh unta atau sapi. Seddangkan apabila menyembelih seekor seekor unta atau sapi dengan tujuh niat sekaligus; seperti qurban, aqiqah, hadyi, kafarat dam dan lain sebagainya, maka itu sah dan tidak termasuk saling tumpang tindih dengan yang lain. Sebab, setiap sepertujuh bagian unta atau sapi yang disembelih itu sah menurut niatnya masing-masing.

Dalam syarah kitab Al-‘Ibab disebutkan : Apabila melahirkan dua orang nayi dari satu perut kemudian menyembelih seekor kambing untuk kedua bayi tersebut, hal itu tidak dianggap melaksanakan dasar Sunnah seperti yang disebutkan dalam kitab AL-Majmu’ dan lain-. Sebba, mereka menanannapnya termasuain. Ibnu Abdil Barr mengatakan: ‘Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini.’ Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa saling tumpang tindih antara qurban dengan aqiqah lebih tidak diperbolehkan. Sebab kalau yang satu jenis saja tidak diperbolehkan, apalagi yang berlainan jenis, Wallahu Subhanahu wa Ta’ala a’lam.

Pendapat yang kuat menurut saya adalah bahwa ritual qurban tidak dapat mewakili aqiqah dan begitu juga sebaliknya. Sebab, masing-masing memeiliki sebab tersendiri dalam ritual penumpahan darah sehingga tidak bisa mewakili keduudkan yang ain. Seluruh contoh kasus yang mereka ketengahkan belum tentu diterima oleh seluruh ulama.

Dilakukannya dua ibadah sekaligus dengan satu niat diperbolehkan oleh sebagian ualama. Sebab, mereka menganngapnya termasuk katergori menghilangkan hadas kecil dan hadas besar sekaligus, atau dengan niat mandi Jumat dan mandi junub. Hal ini kontradiktif dengan pendapat Ibnu Hazm. Sedangkan tentang ibadah shalat Tahiyyatul Masjid yang dilakukan dengan niat shalat sunnah Rawatib, karena shalat Tahiyyatul Masjid sudah pasti dilakukan walau dengan tanpa niat sekalipun. Kemudian, pendapat mereka tentang bolehnya melakukan dua ibadah dengan satu niat, menurut hemat saya Allah SWT tlah menganggapnya memiliki dua tujuan berbeda walaupun tidak diniatkan oleh si pelaku. Misalnya seperti orang yang bersedekah untuk karib-kerabat. Dia akan mendapatkan dua pahala sekaligus, pahala sedekah dan pahala menyambung tali silaturahmi.

 

Sumber : Buku “ENSIKLOPEDIA AQIQAH tntunan Lengkap Tata Cara Aqiqah Bayi dan Menyambut Kehadiran Bayi” ( Penulis, DR. Husamuddin bin Musa ‘Afanah ) Pro-U Media

Terbaru

Cara Menghemat Biaya Aqiqah si Buah Hati

Hal yang paling ditunggu setiap pasangan adalah lahirnya buah hati…

Menggabungkan Qurban dan Aqiqah

Apabila waktu qurban bertepatan dengan aqiqah, seperti apabila seseorang ingin…

4 Cara Mengatasi Anak Yang Sulit Bangun Pagi

Kebiasaan baik perlu ditanamkan sejak dini. Mengapa ? Karena Jika…

Tips dari Rasulullah SAW dalam Memilih Pasangan

Rasulullah SAW bersabda,  “Wanita dinikahi karena empat hal: karena…